Feeds:
Pos
Komentar

Membaca harian tertentu terbitan Minggu 19 okt 08, selaku warga negara Indonesia merasa bangga atas prestasi ketiga Perguruan Tinggi tersebut atas prestasinya yang berhasil meningkatkan peringkat masing masing. Sekitar dua tahun lalu UI berada diperingkat 359 kini berada di 287, ITB dari peringkat 369 menjadi peringkat 315, dan UGM dari 360 menjadi 316.Data ini dikeluarkan dari sebuah Lembaga Pemeringkatan asal Inggris The Times Higer Education Suplement Quacquarelli Symond ( THE QS). Memang lembaga tersebut bukan satu satunya lembaga penilai, masih ada lembaga lain seperti Universitas Shanghai Jia Tong. Para pemerhati pendidikan tinggi di Indonesia juga masih mendiskusikan penilaian tersebut apakah sudah sesuai dengan situasi dan kondisi Indonesia. Tetapi apapun metodanya, penilaian tersebut adalah sebuah pengakuan. Tidak mudah untuk dapat mencapai hasil tersebut, walaupun masih dalam kisaran kurang lebih tiga ratusan. Saya percaya ketiga perguruan tinggi tersebut pasti akan berpacu ketingkat yang lebih tinggi, apalagi dukungan pemerintah melalui APBN dinaikkan. Nampaknya penelitian di perguruan tinggi masih banyak menghadapi kendala yang harus diatasi, karena mempunyai nilai yang cukup tinggi dalam penilaian. Tetapi apakah bentuk pengabdian masyarakat juga mendapat penilaian yang proporsional ?. Selanjutnya bagaimana dengan perguruan tinggi yang lain, apa sdh bisa masuk 400-500 besar, semoga penilaian ini menjadi salah satu pemacu dan pemicu bagi perguruan tinggi yang lain, termasuk juga pada tingkat SMU. Sekali lagi selamat.

Iklan

Saat ini banyak kawan yang ngomong dan nulis tentang nasionalisme, mungkin tertarik dengan komentar yang menantang yaitu ” Nasionalisme bangsa ini sedang dalam titik rendah “. Saya pikir bagus banget banyak pendapat/penulis yang menyumbangkan pikiranya, sesuai versi masings. Saya juga pernah baca2, dan akan saya coba menuangkannya, siapa tau ada manfaatnya .

Vesnia Pasic ( 1998 ) seorang direktur Pusat Tindakan Anti Perang di Beograd menyebutkan nasionalisme sebagai paham kebangsaan. Untuk menyederhanakan pengertian, saya setuju dengan pendapat ini. Namun paham kebangsaan itu sendiri juga berkembang sesuai perkembangan jaman. Pasic mengutarakan bahwa paham nasionalisme (khususnya saat Perang Dunia II )diletakan dalam kerangka perjuangan mengdapatkan kembali wilayah guna melindungi rekan sebangsa atau “harta pusaka” bangsa. Robert L Hardgrave (1993) mengkaji tentang nasionalisme di India sebagai jati diri rakyat India yang dibentuk melalui konstitusi. Konstitusi harus memayungi berbagai keragaman seperti kebebasan beragama, budaya bahasa, minoritas serta kasta. JJ Rousseau (1964) mengutarakan masyarakat yang dibatasi oleh derajat kemempuan manusia dipertemukan kebiasaan manis untuk saling berjumpa dan saling mengenali, merubah rasa cinta tanah air menjadi rasa cintasewarga negara, bukan cinta tanah kelahirannya. Yulie Mostov (1993) mengartikan anggota kebangsaan dibatasi oleh garis keturunan, yang dianggap     sama dengan kesamaan bahasa, agama, mitos, dan kebudayaan. Identitas kebangsaan dihubungkan dengan keturunan etnik yang dianggap sama. Hak kewarganegaraan dipandang bukan sebagai hak perorangan yang dibagi sama kepada semua orang, melainkan hak kolektif dari kelompok etnik atau kebangsaan. Bangsa dipahami sebagai sebagai satu bentuk keluarga besar.

Bagaimana di Indonesia ?

Lanjut Baca »

Saya ucapkan selamat atas perjuangan sdr dalam meningkatkan kualitas pribadi melalui perkuliahan S2 MMHan di UPN VET JKT. Setelah saya mendengar lap ev dari ket program, saya merasa bangga disertai dengan harapan yang tinggi, kedepan sdr2 bersama rekan yg lain akan menjadi kader2 pertahanan yg handal. Tapi ingat, semasa sdr kuliah adalah awal dari proses utk menuju sukses dalam pengabdian kpd negara dan bangsa. Sdr juga harus berkompetisi secara positif dengan rekan yg lain. Tunjukkan bahwa sdr layak memikul predikat sbg mhs yg terpilih dari 120 an orang. Sdr adalah mhs MMHan, bukan MM yg lain. Saat ini sdr akan masuk dalam semester ketiga, yg berarti masuk dalam pendalaman materi2 inti konsentrasi Pertahanan, antara lain strategi han, logistik han, informasi han dll. Dalamilah secara cermat dan sungguh2, UPN telah merancang dan memberikannya secara optimal, mungkin ditempat lain tidak ketemu. Disamping itu sdr sdh mulai ancang2 untuk membuat penelitian sbg salah satu persyaratan akademis menyelesaikan S2 nya. Tanpa bermaksud mencampuri kewenagan akademis dari pengelola ( UPN ) saya akan memberikan pandangan ( dalam tema ) sbg alternatif menentukan juduj penelitian, antara lain :

1. Masalah hubungan dengan negara sahabat.  Tatanan negara dalam konteks hubungan dengan negara lain semakin lama terasa semakin menguat, diantaranya adalah bidang pertahanan. Hubungan ini saling memerlukan, saling menguntungkan, dalam kerangka konstitusi dan untuk kepentingan nasional. Bagi Indonesia, hubungan sesama negara Asean, RI – USA, RI – Rusia, RI – China, RI – Australia kedepan tetap menonjol. Sdr dapat memilih salah satu diantara sekian banyak hubungan antar negara dibidang pertahanan.

Lanjut Baca »

Personel Dephan/TNI khususnya generasi mudanya lebih beruntung dalam hal menikmati kesempatan pendidikan formal untuk meningkatkan kualitas masing2. Beberapa perguruan tinggi ternama menjalin kerja sama untuk menerima mahasiswa dari Dephan/TNI dengan diberi bantuan atau bea siswa. Bahkan lembaga pendidikan diluar negri baik yang berada dibawah DOD maupun diluar juga memberikan bantuan. Bahasan kita kali ini adalah pendidikan Strata S 2. Dephan memberi bantuan kpd personel Dephan/TNI baik militer maupun PNS untuk kuliah dengan program kajian tannas ( UGM dan UI ), Manajemen Han di ITB, Manajemen SDM dan Han di UPN VET JKT atau mungkin masih ada lagi ditempat lain. Sungguh sesuatu yang bagus untuk meningkatkan kualitas perorangan, yang pada ujung jauh disana tujuannya adalah meningkatkan kinerja organisasi. Kegiatan ini patut untuk dilanggengkan bahkan diperkuat. Salah satu cara memperkuat adalah menata disiplin ilmu yang dikuliahkan pada masing2 perg tinggi tsb sehingga sinkron dengan apa yang dibutuhkan organisasi ( baca Dephan ). Penataan disiplin ilmu melalui kurikulum/silabi sangat diperlukan, dalam hal ini antara kemauan taktis/strategis Dephan dengan kemampuan teknis pendidikan di universitas masing2, termasuk bagaiman mengendalikan selama kuliah dan pemanfaatan setelah selesai. Banyak aspek  terkait, yang berada dalam fungsi yang berbeda. Persoalannya siapa/institusi mana yang menangani atau paling tidak menjadi penjuru sehingga hasilnya akan lebih optimal. 

Ide tersebut sebetulnya sudah pernah di wacanakan beberapa tahun lalu walaupun sebatas ide yang masih belum bulat. Tetapi semangatnya adalah, Dephan merasa sangat berkepentingan dengan hadirnya para pemikir, pemerhati, ilmuwan serta praktisi masalah pertahanan. Kita semua menyadari bahwa masalah pertahanan bukan hanya menjadi monopoli TNI, tetapi adalah hak dan kewajiban seluruh warga negara Indonesia. Kedepan masalah pertahanan ini akan menjadi semakin kompleks sesuai lingkungan strategi yang berkembang, baik global, regional maupun nasional. Mendirikan Universitas Pertahanan Indonesia akan menjadi sangat penting sebagai upaya Dephan bersama komponen bangsa yang lain untuk menyiapkan “kader-kader pertahanan” yang handal. Pengertian handal dilebarkan dalam spektrum yang luas, yang berarti : sesuai jati diri bangsa yang berdasarkan Pancasila & UUD Thn1945, taat pada prinsip-prinsip negara demokrasi, menjunjung tinggi HAM, perhatikan lingkungan hidup dan dengan arah kepentingan nasional. Jadi produk dari Universitas Pertahanan Indonesia ini bukan sekedar ilmuwan pertahanan, tetapi ilmuwan pertahanan yang handal seperti tersebut diatas. Ide ini bukan ide ringan, tetapi sangat strategis. Oleh sebab itu perencanaannya harus dilakukan secara matang, komprehensif dengan melibatkan unsur-unsur terkait.  Saya berpendapat bahwa ide ini sangat bagus, penting dan strategis, sehingga perlu untuk ditindak lanjuti. Beberapa hal yang harus dicermati agar pendirian UNHAN ini menjadi kenyataan sesuai yang diharapkan saya coba bagi dalam tiga kelompok besar, yaitu :

Satu : Unhan harus berada dalam sistem Diknas, tidak berada diluar. Apakah Unhan sama dengan universitas yang lain atau bentuk perguruan tinggi kedinasan harus diatur secara tegas. Berada dalam sistemnya Diknas berarti mematuhi aturan yang berlaku, atau mungkinkah ada penyesuaian yang harus dilakukan.

Lanjut Baca »